Pages

Wednesday, 2 November 2016

Kawah Putih




Masih tentang tempat wisata yang ada di Jawa Barat, kali ini saya akan menulis tentang Kawah Putih. Ini adalah objek wisata yang cukup terkenal, tempatnya di sebelah Selatan Bandung. Disebut Kawah Putih, ya memang karena berupa kawah, dan karena sudah tidak aktif dari sekitar tahun 1600an, maka dijadikan tempat wisata, ditambah lagi kawah ini di tengah-tengahnya membentuk danau dengan warna hijau toska yang cantik. Warna ini terjadi karena tingkat asamnya cukup tinggi. Buat temen-temen yang suka nuansa surealis, pasti suka juga sama tempat ini. Nggak jarang banyak art visual project yang dilakukan di sini. Bikin video clip, photography, melukis.... (mungkin? Belum pernah liat sih kalau ini) :D


Menuju Kawah Putih



Saya dan suami sengaja pergi agak subuhan dikit, mampir dulu ke teman kami, Endras namanya. Kami pergi mengendarai motor, berangkat sekitar jam 4.45 pagi, dengan harapan bisa lihat sunrise di perjalanan. Sayangnya cuaca mendung, jadi matahari tertutup awan. Gloomy gloomy galau gimanaaa gitu. Nggak jadi deh liat sunrise-nya. Perjalanan kami bisa dibilang cukup santai. Sempet berhenti lama dulu ambil jas hujan, ambil uang dulu di ATM, dan nggak ngebut juga. 

Menjelang sekitar 30 atau 15 menit menuju Kawah Putih, cuaca berubah, sinar matahari mulai menyisir lembah di sebelah jalan berkelok yang kami lalui. Dan kami sengaja berhenti untuk menikmati satu pemandangan, pegunungan yang terletak jauh di seberang kami. Kaki gunungnya tertutup awan putih, seperti sedang bersandar di langit biru.




Setelah menikmati pemandangan sebentar, dan mengecek kondisi motor, maka kami lanjutkan perjalanan.
Nggak disangka, sampai di jalan masuk Kawah Putih kami tiba sekitar 15 menit sebelum loket penjualan tiket dibuka (sekitar jam 6.45). Ya suds, sambil mengisi waktu, gimana kalau sarapan dulu? Bandrek panas, Indomie hangat, dan telor ceplok terasa sangat berharga. Nggak usah khawatir tentang makanan. Banyak warung yang menyajikan jajanan tradisional. Karena memang suhu di jam itu, saat itu, sekitar 17 - 18 celcius. Nggak dingin2 amat, tapi kalau baru naik motor, yah... mungkin terasa seperti di Canada :D


Oh iya, kalau teman2 juga naik motor, saat parkir pastikan titip helm dulu ke penjaga parkir, dan kalau mereka minta biaya, tanyakan untuk apa. Apa untuk parkir, biaya helm, atau masker. Mereka di awal men-charge kami Rp. 5,000.- per orang, katanya untuk biaya parkir. Tapi setelah kembali, mereka men-charge lagi, katanya, yang 5,000 di awal itu untuk biaya masker. Nah... kalau teman2 punya masker, bawa sendiri mungkin lebih baik. Dan memang sangat direkomendasi untuk memakai masker, karena konsentrasi belerangnya kuat sekali, dan biasanya uap belerang yang terbawa angin memapar wisatawan di lokasi.
Setelah sarapan, maka kami segera membeli tiket masuk. Karena kami pakai motor, dan diparkir di jalan masuk Kawah Putih, maka kami dikenakan biaya lagi sebesar Rp. 35,000.-/orang untuk sewa shuttle car, sudah termasuk dengan tiket masuk Kawah Putih. 
Shuttle car
Pengelola tidak memperbolehkan motor masuk ke area wisata karena banyak terjadi kecelakaan motor. Jalan yang sempit, berkelok, mendaki, dan licin di saat hujan, banyak menelan korban. Solusi mereka adalah dengan menyediakan shuttle car yang siap mengantar pengunjung.

Kalau pakai transportasi umum, teman2 bisa ke terminal Leuwi Panjang dulu, lalu naik bus jurusan Ciwidey. Lalu naik angkot pas di jalan masuk ke Kawah Putih. Budget mungkin sekitar 15-20,000 rupiah.

Kalau pakai mobil pribadi, ini jauh lebih mudah, asalkan temen2 orangnya penyabar, baik hati, dan tidak sombong :D Soalnya jalan menuju ke sana sangat rawan macet, apalagi kalau perginya weekend. Heudeuh... *istighfar... Yang jelas, keuntungannya adalah teman2 nggak perlu naik shuttle car untuk ke Kawah Putih. Mobil bisa langsung diparkir tepat di tempat wisata. Bukan di jalan masuknya. Oh iya, info penting... jalan ke Kawah Putih itu mendaki (pastinya), berkelok, dan sempit. Asalkan penyabar, pasti sampai dengan selamat dan bahagia :D


Sampai di depan Kawah Putih, kami disambut dengan bebauan tak sedap alias bau belerang, ditambah sinar matahari yang hangat. Lalu kami masuk melalui tangga landai, dan sampailah di tempat yang cantik ini. Abaikan baunya. Oh iya, jangan lupa pakai maskernya, dan jangan ragu untuk mengeksplorasi kawasan. 



Taman depan Kawah Putih
Saung Kecapi
Tangga menuju tempat wisata


Areal yang banyak pengunjungnya ada di tengah. Kalau temen2 bawa keluarga yang sudah berumur, bisa diarahkan ke spot untuk lansia. Mereka bisa menikmati objek pemandangan dari ketinggian. Tempatnya juga enak. 


   
Titik pandang (spot) untuk wisatawan lansia
Jalan menuju spot lansia

View dari spot lansia



Mumpung lagi di Kawah Putih, jangan ragu juga untuk berjalan lebih jauh. Coba deh temen2 jalan ke kiri, menyusuri pepohonan. Pasirnya seperti pasir pantai, pepohonan di pinggirnya subur, tapi yang agak mendekati kawah, hanya tinggal batang dan cabang. Di balik pepohonan itu, temen2 bisa lihat tebing yang sangat tinggi, dengan barisan pepohonan seperti prajurit yang menjaga pegunungan. 







Berjalan terus ke arah kiri, akhirnya kami menemukan tempat yang lebih menarik lagi, Sepertinya sih, pernah ada bangunan sebelumnya, karena yang kami temukan hanya tinggal bangunan denahnya aja. Tanpa gedungnya. Lalu juga ada bebatuan berukuran sedang, tersusun membentuk jalan setapak. Ditambah lagi ada bebatuan yang disusun seperti lingkaran. Terkesan seperti situs sejarah dari jaman dahulu kala, dan merupakan spot terbaik buat buka bekel, ngelurusin kaki, catching up my breath, and let our Star Wars - Lord of the Ring - Batman - Xena :D - imagination works. 

Barisan pepohonan

Susunan batu yang membentuk jalan setapak




Gini rasanya diintip awan...




Setelah puas, kami kembali ke tengah, dan melihat beberapa penjual belerang dan souvenir. Karena sudah mulai mendung, kami putuskan untuk segera naik shuttle car, kembali ke parkiran motor. Sesampainya di sana, kami disambut dengan hujan. Terpaksa... mencari secangkir kopi hangat dan sosis bakar... dan ketan bakar.. dan gorengan... ah sudahlah... Beruntung kami sempat menikmati musik tradisional Sunda di salah satu warung. Mengamen hanya pekerjaan sambilan yang "kalau dikasih ya alhamdulillah, nggak dikasih ya nggak apa2, daripada nggak ada kegiatan" gitu katanya dengan bahasa Sunda. Beliau membuat bilanya sendiri, mengambil senar dari kecapi, bow biola beliau ambil dari senar untuk layangan, makanya suaranya unik. Simak deh permainan biolanya:




Perjalanan pulang
Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum ke Kawah Putih

  1. Siapkan masker pribadi
  2. Kalau tidak terbiasa dengan daerah dingin, bawa jacket/sweater tebal
  3. Waktu terbaik untuk mengunjungi Kawah Putih adalah pukul 7 pagi, saat cuaca cerah (mungkin lebih baik saat musim kemarau), dan bertepatan dengan jam operasional tempat wisata. Di jam ini, Anda bisa melihat warna biru langit dan toska dari danaunya. 
  4. Biaya: 
  • parkir motor Rp5,000 (pastikan untuk bertanya setiap kali Anda ditarik biaya)
  • masker Rp5,000 (sebaiknya bawa masker sendiri)
  • shuttle car & ticket 35,000


Thanks for visiting our blog!!


          

No comments:

Post a Comment