Pages

Wednesday, 16 November 2016

Angklung: Gemuruh Bambu di Tanah Parahyangan

Bicara soal kekhasan suatu daerah, pasti nggak akan terlepas dari bahasa, makanan, kebiasaan, dan musik tradisionalnya. Di tanah Parahyangan alias Jawa Barat, ada alat musik yang terbuat dari bambu, namanya angklung, dan di Bandung ada beberapa sanggar musik angklung, salah satunya yang (kembali) jaraknya dekat dengan tempat saya tinggal adalah di Saung Angklung Udjo (SAU), selain juga ada AWI (Angklung Web Institute) di Braga.



Cara ke Saung Angklung Udjo
Ini adalah kali ketiga saya ke sini. Maklum, rumah saya memang daerah sini 😁 Nah, kalau temen-temen dari Jakarta, tinggal naik travel ke Bandung, minta diantar ke areal Cicaheum, atau langsung bilang aja ke Saung Angklung Udjo. Sangat mudah karena tempatnya terkenal. Kalau sudah sampai di mulut jalan Padasuka, yang ada papan besar tulisannya "Saung Angklung Udjo" trus tanda panah, nah itu udah deket. Banyak ojek di depan, tapi kalau jalan juga nggak jauh-jauh amat. Setelah ruko-ruko, dan Indomaret, nyebrang, nyampe deh...

Alamat lengkapnya:
Jl. Padasuka No.118, Pasirlayung, Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40192
Telp: (022) 727 1714


Saung Angklung Udjo
Beberapa kali saya mampir ke SAU. Awalnya, tempat ini nggak terlalu besar, cuma ada toko souvenir dan gedung pertunjukan yang semi outdoor. Tempat parkirnya juga hanya satu, yang sebenernya juga udah cukup luas sekali bangatsss. Cukup buat "nangkring" beberapa bus sekaligus. Jadi kalau temen2 bawa mobil pun nggak usah khawatir soal parkir.

Halaman depan
Seiring dengan berjalannya waktu, Saung Angklung Udjo juga mengalami perkembangan, tempat parkir motor yang awalnya di depan, lalu sempet di samping, 'nyebrang' gang, sekarang balik lagi di samping antara tempat pertunjukan dengan kafe. Jadi bus dan kendaraan roda empat (atau lebih) tempat parkirnya lebih luas lagi. Tempat pertunjukannya juga sudah ditambah. Bahkan sekarang ada tamannya juga. Taman depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah.. 😁 Kereeennn banget. Salut buat Saung Angklung Udjo yang anti mapan 😁


Taman
Tempat pertunjukan 1
Tempat pertunjukan 2
Pertama masuk, saya disambut dengan papan informasi yang memaparkan tentang pendirinya yaitu Bapak Udjo Ngalagena, maupun tentang sepak terjang SAU dalam memperkenalkan alat musik Parahyangan ini. Nggak hanya itu, yang terpenting lagi adalah mereka menyajikan informasi tentang perkembangan angklung, dari yang tadinya dibuat untuk mengiringi upacara-upacara adat Sunda (disertakan juga daerah penyebarannya, dan sampai sekarang masih ada), lalu dikembangkan lagi ke nada pentatonis (biasanya digunakan untuk lagu daerah), lalu mereka menciptakan lagi angklung dengan tangga nada diatonis, jadi kita tidak hanya bisa memainkan lagu daerah, tapi juga lagu-lagu mancanegara pada umumnya. Nanti langsung baca aja yah, di papannya :D


   



Setelah baca-baca, foto-foto, barulah saya masuk ke toko souvenir. Di situ sudah ada para mojang jajaka yang menyambut. Toko souvenirnya nggak cuma menjual pernak pernik dari tanah Sunda aja, mereka juga menjual beberapa yang berasal dari daerah lain, seperti alat musik Tifa dari Maluku dan Papua, ada wayang kulit juga yang asalnya dari tanah Jawa, dlsb. Dari mulai T-shirts dengan printingan Saung Angklung Udjo, baju pangsi, iket, wayang golek, wayang kulit, topeng, suling bambu, angklungnya juga (pastilah yah...) baik angklung yang memang beneran buat dimainin, sama angklung-angklungan buat dipajang atau gantungan kunci, kelom, tas-tas ethnic, ada semua. Alat-alat permainan tradisionalnya juga ada, bahkan juga ada suling juga, dan suling ini ada beberapa jenisnya. Terakhir kali saya ke sini, saya sempat beli dan mereka menyediakan jasa grafir juga. Jadi sekalian beli suling, sekalian sulingnya saya kasih nama, biar nggak ilang :D 


Iket
Suling Bengsin

Wayang Golek
 







 
Angklung Petang
Kali ketiga ini, saya sempatkan nonton Angklung Petang, dan surprisingly, angklung petang yang hari ini, Rabu 16 Nov 2016, adalah hari yang spesial, karena tepat 6 tahun yang lalu UNESCO menetapkan angklung sebagai warisan dunia yang berasal dari Indonesia. Inget kan, jaman waktu kata-kata "diklaim" negara lain itu happening banget :p Well anyway, setiap hari, SAU mengadakan pertunjukan lengkap di angklung petang ini. Sebelum masuk ke acaranya, ini harga tiket untuk angklung petang:

Weekday:
Dewasa - domestik: IDR 60,000
Dewasa - mancanegara: IDR 100,000
Anak2 (4-11 thn): IDR 40,000
Weekend:
Dewasa - domestik: IDR 70,000
Dewasa - mancanegara: IDR 110,000
Anak2 (4-11 thn): IDR 50,000

 
Setelah membeli tiket, saya diberi kalung tali dengan liontin angklung dari bambu dan sinopsis acara dalam bahasa Indonesia, sebagai souvenir sekaligus tiket. Pertunjukan dimulai dengan sambutan dari MC yang bisa berbicara beberapa bahasa sekaligus. Abis bahasa Indonesia, Inggris, lalu tau ada turis dari Jerman dan Belanda, pake bahasa itu juga dia. Ada tourist Jepang juga dipake juga bahasa Jepangnya. Luar biasa *AngkatJempolBuatMbakKeti



Setelah casciscus multilingual Bu MC, mulai deh acaranya, dibuka dengan wayang golek, pertunjukan khas tanah Sunda, dan tokoh berwarna merah pakai pangsi, iket, dengan gigi tongosnya ini selalu muncul: Astrajingga alias Cepot (awas jangan kebalik nyebutnya). Sebenernya lucu, tapi karena dalam bahasa Sunda dan hanya segelintir orang yang ngerti, jadi agak2 senyap - "krik krik" gitu. Perlu subtitle, tapi bingung juga mau ditaro di mana :D


Pembukaan wayang selalu dimulai dengan "Gunungan"
Wayang golek selesai, langsung disambung dengan Helaran, biasanya dimainkan untuk mengiringi upacara tradisional khitanan maupun pada saat panen padi.













Pertunjukan masih terus bersambung, setelah Helaran selesai, penonton langsung disuguhi dengan tari Topeng, disusul dengan persembahan kolosal anak-anak, bersama-sama menyanyi lagu Sunda, Tokecang. Terus terang, di sini saya agak baper juga. Di tengah-tengah kondisi negara yang kisruh, tetiba nonton ini rasanya bertolak belakang dan adem banget. Suasana haru memuncak dan saya sempat menitikkan air mata sesaat. Betapa kayanya budaya Indonesia, dan semua bersatu padu, berwarna-warni, saling melengkapi satu sama lain melalui perbedaan. Baiklah... dilanjut lagi yah... 😁 


Tahun 1938, Bapak Angklung Indonesia: Daeng Soetigna, mengadaptasi tangga nada diatonik mayor (yang biasa kita kenal sekarang), ke dalam alat musik bambu ini. Nggak hanya nadanya aja diadaptasi, tapi juga bentuknya, diubah menjadi arumba (seperti xylophone, vibraphone). Alat musik yang tadinya pentatonik (da-mi-na-ti-la), dimodifikasi menjadi diatonik (do re mi fa sol la si) supaya bisa bermain combo atau kolaborasi dengan alat musik modern.

Karena kemampuannya sudah berkembang, maka pertunjukannya pun berkembang. Selain menyajikan combo band memakai arumba dan cajon, SAU juga mengajak penonton menyanyi bersama. Lagu ini ada di semua negara dengan bahasa yang berbeda-beda. Kalau di Indonesia, namanya Melati Kenanga. Dalam bahasa Sunda, jadi Boneka Abdi, dan mereka menyanyikannya dalam beberapa bahasa juga. Karena sangat terkenal, Bu MC jadinya berkeliling mengajak penonton bernyanyi. Baris satu pakai bahasa Sunda, lalu baris dua pakai bahasa Indonesia, sebentar dia nyamperin turis Jepang pakai bahasa Jepang, dan seterusnya bisa ditebak 😄 *MasihKagum




Saat kagum saya belum selesai, SAU memberikan deretan seni tari yang bertubi tubi, mulai dari Aceh dengan Bungong Jeumpanya, Sumatera dengan Sinanggar Tulonya, Jakarta dengan Jali-Jalinya, begitu seterusnya sampai Papua dengan Yamko Rambe Yamkonya, dan semuanya ini diiringi dengan alat musik angklung dan bambu, lengkap dengan alat musik modern (bass dan drumset).




Mata masih takjub, pikiran masih menerawang ke beberapa daerah lain di Nusantara yang begitu agung, dengan berbagai suku, tetiba sederetan anak-anak menyodorkan angklung untuk kami mainkan satu persatu. Saya dan sebelah kiri saya, traveler dari Makassar, kebagian angklung dengan sticker tulisan Papua, nada do tinggi, dengan kode tangan mengepal ke atas. Sementara sebelah kanan saya, traveler dari Jepang, kebagian angklung dengan sticker bertuliskan Nusa Tenggara, nada si (7), dengan gambar kode tangan membentuk huruf U. Nggak lama, muncul bapak Daeng Udjo dan putranya, sudah bisa ditebak, kami diajarkan untuk bermain orkestra angklung bersama, dan hanya dalam waktu singkat, kami sudah bisa memainkan lagu The Beatles - All My Loving dan I Have a Dream.


Belajar angklung
Setelah belajar angklung, kami disuguhkan kembali dengan permainan angklung dari SMPN 1 Cibanteng, disambung dengan orkestra angklung yang lumayan serius. Kenapa serius, karena pemainnya cuma beberapa orang, nggak sebanyak di pertunjukan sebelumnya. Tapi, satu orang bisa memainkan 10 angklung, atau lebih malah. Repertoire-nya juga nggak main-main: lagu klasik Hungarian Dance no. 5 milik Brahms, dan soundtrack theme Mission Impossible.

Masih terkagum dengan seluruh pertunjukan itu, SAU menutup acara Angklung Petang dengan sangat meriah. Anak-anak satu persatu menggandeng kami untuk menyanyi dan menari bersama ke lantai bawah (melantai kali yaaa :D). Lagu-lagunya pun semua lagu daerah, dibarengi dengan permainan tradisionalnya, seperti Injit Semut, Ular Naga, tari Caca Marica, dlsb. Saya nggak sempet ambil gambar atau videonya, gegara ikutan juga, tapi yang jelas seruuu bangats!!! SAU sukses bikin kenangan indah yang membekas di hati buat pengunjungnya. Ini sambil nulis sebenernya pengen nonton lagi ke sana 😄😄😄

Panorama pic of SAU
Kalau sudah mengunjungi SAU, dan mulai lapar, jangan khawatir. Pengen ngadem di kafe, ada... Atau pengen berhemat dengan budget ala Indomaret, ada juga. Selain ada Indomaret di sebrang SAU, di sekitar tempat itu kalau sudah mulai sore, yah sekitar jam 5an,... sudah mulai banyak penjaja makanan yang bisa dijajah 😁 Soto, sate, nasi goreng, bakso, batagor, gorengan, roti bakar, ayam penyet, duh banyak dah... Dan kalau masih ada sisa waktu, coba deh jalan-jalan di gang sebelah SAU, tempat antara parkir motor dan SAU. Atau, mungkin lebih baik kalau temen2 datangnya lebih awal, jam 2 siang misalnya, jadi bisa menjelajar sebentar di gang sekitar SAU. Di situ temen-temen bisa lihat kehidupan warga. Ada yang sedang bikin angklung, noreh bambu, nyetem nada, dlsb. SAU sangat didukung oleh warga sekitar. Bisa dibilang itu mata pencaharian mereka. Tapi jangan lupa nginget-nginget jalan gangnya yah, nggak lucu aja nyasar di situ sementara langit udah gelap 😟😟😟

 
Thanks for visiting my blog!!


Monday, 7 November 2016

Tangkuban Perahu

Setelah minggu lalu kami mengunjungi Kawah Putih di Selatan Bandung, maka kali ini kami mengunjungi wisata alam lainnya yang berada sekitar 30 km Utara Bandung, namanya Tangkuban Perahu. Diperlukan sekitar 2 jam dari Bandung sampai ke sana. Kalau temen2 suka hiking tapi masih belum berani "serius", tempat ini boleh dicoba, karena tangga-tangganya sedikit curam, banyak, tapi sudah dirapikan (diplester), dan di-design sedemikian rupa, sehingga nyaman buat trekking or hiking.


Cerita Rakyat
Tangkuban Perahu (atau dibaca: Tangkuban Parahu dalam bahasa Sunda), memiliki cerita rakyat yang melegenda. Begini ceritanya: Dahulu kala, ada seorang putri bernama Dayang Sumbi yang cantiiik banget. Saking cantiknya, banyak raja yang berperang memperebutkan dia. Merasa sebagai sumber peperangan, Dayang Sumbi akhirnya pergi ke hutan dan tinggal di sana.
Suatu hari, Dayang Sumbi sedang menenun, tiba-tiba pintalan benangnya jatuh. Malas mengambil pintalan itu, dia bersumpah, "Barang siapa yang bisa mengambil pintalan benang itu, akan kujadikan suami." Tetiba seekor anjing bernama Tumang (yang konon adalah keturunan dewa) mengambil pintalan itu dan memberikannya ke Dayang Sumbi. Karena sudah telanjur janji, akhirnya mereka menikah dan dikaruniai anak, dinamakannya Sangkuriang.
http://forum.liputan6.com/t/legenda-dibalik-gunung-tangkuban-perahu/25582
Tumbuh dewasa, Sangkuriang selalu ditemani Tumang, yang ia ketahui sebagai anjing piaraannya. Suatu hari, mereka pergi berburu, Sangkuriang janji akan berburu rusa. Tertekan karena nggak dapet rusa, Sangkuriang akhirnya membunuh Tumang, mengambil hati Tumang, dan diberikan ke ibunya. Intuisi seorang ibu, Dayang Sumbi mengetahui benar bahwa itu adalah hati Tumang, ia marah besar ke Sangkuriang, dipukulnya kepalanya dan diusirnya dia dari rumah. 

Sangkuriang berkeliling dunia dan kembali ke desa yang sama tanpa disadarinya. Di sana dia bertemu ibunya, tapi ia tidak menyadarinya. Awalnya Dayang Sumbi tidak tahu bahwa itu Sangkuriang, bahkan mereka memutuskan untuk menikah. Melihat ada luka bekas pukulan yang sama, ia terkejut dan menyuruh Sangkuriang untuk membuat danau dan perahu besar, harus selesai sebelum matahari terbit esok hari, dengan tujuan menggagalkan pernikahan, tanpa Sangkuriang tahu bahwa dia adalah ibu kandungnya.
 
https://asep4212.wordpress.com/2010/11/04/asal-usul-gunung-tangkuban-perahu/
Dengan kekuatan magisnya, Sangkuriang mengabulkan permintaan ibunya. Ia membuat danau dengan membendung sungai Citarum dan membuat perahu. Khawatir hal itu terwujud, Dayang Sumbi terus berdoa supaya Tuhan menggagalkan niat Sangkuriang. Tuhan mengabulkan doa Dayang Sumbi. Sangkuriang kecewa, dia menendang perahunya sampai terbalik, dan perahu itu menjadi gunung yang dikenal sebagai Gunung Tangkuban Perahu (Perahu Terbalik).
http://www.sinar8.com/2016/03/legenda-sangkuriang-asal-usula-gunung.html


Menuju Tangkuban Perahu
Karena jaraknya nggak jauh-jauh amat, maka kali ini saya dan suami coba bawa motor sendiri-sendiri. Yaaa ada untung ruginya juga sebenernya. Kalau bawa sendiri, ada beberapa view di perjalanan yang saya nggak bisa ambil, konsen nyetir soalnya :D Tapi, senang bisa bawa sendiri. Rendezvous point kami adalah UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) di Jl. Setiabudhi. Di sana kami juga berbarengan dengan beberapa motor club lain yang berencana SunMoRi (Sunday Morning Ride). 

Sekitar satu jam kemudian, Endras & Rere menyusul, langsung kami berangkat menuju Tangkuban Perahu. Jalan menuju ke sana agak berkelok, thank God cuaca sangat mendukung. Bener-bener Minggu pagi yang cerah, dan seperti biasa, areal Bandung di akhir pekan selalu apa?.. Macet yah betul bangats!! Mungkin lebih tepatnya padat merayap ya... Begitu terus sampai Tangkuban Perahu.

Sebelum sampai ke sana, temen2 akan disuguhi dengan pemandangan hutan pinus di kanan kiri jalan. Cikole nama areanya. Sayang banget saya nggak bisa ambil gambar. Tapi saya coba ambil gambar dari situs lain yah.... :D
http://www.king-adventure.com/grafika-cikole-lembang-2

http://tempatwisatadibandung.info/wisata-hutan-pinus-cikole-lembang-pal-16/


Tangkuban Perahu
Setelah berjibaku dengan lalu lintas padat merayap, sampai juga kami di Tangkuban Perahu. Terakhir kali saya ke sini, sekitar 10-11 tahun lalu. Saya pikir cuacanya masih sama, ternyata jauh lebih panas. Syal dan jacket akhirnya nganggur deh :D
Di gerbang masuk temen-temen akan disambut dengan penjual tiket. Harga tiket masuknya Rp. 30,000.- sajahhh.... Kalau pakai motor, biaya parkirnya Rp. 17,000.- sajahhh... :-)
Setelah membayar dlsb, kami masih harus bermotor ke atas, dan jalannya lebih berkelok dan menanjak. Mereka tidak menyediakan shuttle car untuk menuju ke area wisata. Jadi sebaiknya temen-temen harus mempersiapkan kendaraan pribadi.
 
 Jalan menuju Tangkuban Perahu


Sampai di Tangkuban Perahu, kami langsung menuju parkiran motor yang nun jauh di bawah sana. Pemandangan yang disuguhkan di sini juga cukup menarik. Diawali dengan warung-warung penjual souvenir dan makanan tradisional, yang menggiring Anda sampai ke area parkir motor. Tempat parkirnya agak curam, jadi hati-hati kalau menuju ke sana yah...


Kalau temen-temen suka hiking, atau baru belajar hiking, tempat ini pas banget. Terakhir saya ke sini, tempat ini masih beralaskan tanah, belum diaspal. Sekarang jauh lebih rapih. Warung-warung diatur tempatnya. Akses masuk dan jalan di sekitarnya sudah diaspal. Bahkan, pagar pembatas pun sekarang lebih jauh dari kawah. Mungkin dibuat lebih jauh jaraknya karena terkadang gunung ini masih pernah beberapa kali erupsi. Dan karena jarak kawahnya jauh, nggak perlu khawatir terpapar belerang. Titik pengamatan juga dibuat bertangga-tangga, dan semuanya sudah diplester. 




Penasaran, kami coba untuk naik lebih tinggi, dan ternyata di areal ini ada hutannya, sejuk banget. Tempatnya juga pas dekat dengan warung Indomie. Ya sudah, mungkin memang waktunya istirahat dan makan dulu :D
"Hutan Indomie"

Cuaca semakin panas, matahari hampir tepat di atas kepala, lututku lemas, baju bau keringet, dan semakin siang, pengunjung semakin banyak. Akhirnya ya sudah, kami segera turun menuju parkiran motor, pulang, dan disambut dengan lalu lintas yang jauh lebih padat menuju Bandung. Bahu jalan lebih sering kami gunakan daripada bahu pacar :D


Thanks for visiting our blog!!

Wednesday, 2 November 2016

Kawah Putih




Masih tentang tempat wisata yang ada di Jawa Barat, kali ini saya akan menulis tentang Kawah Putih. Ini adalah objek wisata yang cukup terkenal, tempatnya di sebelah Selatan Bandung. Disebut Kawah Putih, ya memang karena berupa kawah, dan karena sudah tidak aktif dari sekitar tahun 1600an, maka dijadikan tempat wisata, ditambah lagi kawah ini di tengah-tengahnya membentuk danau dengan warna hijau toska yang cantik. Warna ini terjadi karena tingkat asamnya cukup tinggi. Buat temen-temen yang suka nuansa surealis, pasti suka juga sama tempat ini. Nggak jarang banyak art visual project yang dilakukan di sini. Bikin video clip, photography, melukis.... (mungkin? Belum pernah liat sih kalau ini) :D


Menuju Kawah Putih



Saya dan suami sengaja pergi agak subuhan dikit, mampir dulu ke teman kami, Endras namanya. Kami pergi mengendarai motor, berangkat sekitar jam 4.45 pagi, dengan harapan bisa lihat sunrise di perjalanan. Sayangnya cuaca mendung, jadi matahari tertutup awan. Gloomy gloomy galau gimanaaa gitu. Nggak jadi deh liat sunrise-nya. Perjalanan kami bisa dibilang cukup santai. Sempet berhenti lama dulu ambil jas hujan, ambil uang dulu di ATM, dan nggak ngebut juga. 

Menjelang sekitar 30 atau 15 menit menuju Kawah Putih, cuaca berubah, sinar matahari mulai menyisir lembah di sebelah jalan berkelok yang kami lalui. Dan kami sengaja berhenti untuk menikmati satu pemandangan, pegunungan yang terletak jauh di seberang kami. Kaki gunungnya tertutup awan putih, seperti sedang bersandar di langit biru.




Setelah menikmati pemandangan sebentar, dan mengecek kondisi motor, maka kami lanjutkan perjalanan.
Nggak disangka, sampai di jalan masuk Kawah Putih kami tiba sekitar 15 menit sebelum loket penjualan tiket dibuka (sekitar jam 6.45). Ya suds, sambil mengisi waktu, gimana kalau sarapan dulu? Bandrek panas, Indomie hangat, dan telor ceplok terasa sangat berharga. Nggak usah khawatir tentang makanan. Banyak warung yang menyajikan jajanan tradisional. Karena memang suhu di jam itu, saat itu, sekitar 17 - 18 celcius. Nggak dingin2 amat, tapi kalau baru naik motor, yah... mungkin terasa seperti di Canada :D


Oh iya, kalau teman2 juga naik motor, saat parkir pastikan titip helm dulu ke penjaga parkir, dan kalau mereka minta biaya, tanyakan untuk apa. Apa untuk parkir, biaya helm, atau masker. Mereka di awal men-charge kami Rp. 5,000.- per orang, katanya untuk biaya parkir. Tapi setelah kembali, mereka men-charge lagi, katanya, yang 5,000 di awal itu untuk biaya masker. Nah... kalau teman2 punya masker, bawa sendiri mungkin lebih baik. Dan memang sangat direkomendasi untuk memakai masker, karena konsentrasi belerangnya kuat sekali, dan biasanya uap belerang yang terbawa angin memapar wisatawan di lokasi.
Setelah sarapan, maka kami segera membeli tiket masuk. Karena kami pakai motor, dan diparkir di jalan masuk Kawah Putih, maka kami dikenakan biaya lagi sebesar Rp. 35,000.-/orang untuk sewa shuttle car, sudah termasuk dengan tiket masuk Kawah Putih. 
Shuttle car
Pengelola tidak memperbolehkan motor masuk ke area wisata karena banyak terjadi kecelakaan motor. Jalan yang sempit, berkelok, mendaki, dan licin di saat hujan, banyak menelan korban. Solusi mereka adalah dengan menyediakan shuttle car yang siap mengantar pengunjung.

Kalau pakai transportasi umum, teman2 bisa ke terminal Leuwi Panjang dulu, lalu naik bus jurusan Ciwidey. Lalu naik angkot pas di jalan masuk ke Kawah Putih. Budget mungkin sekitar 15-20,000 rupiah.

Kalau pakai mobil pribadi, ini jauh lebih mudah, asalkan temen2 orangnya penyabar, baik hati, dan tidak sombong :D Soalnya jalan menuju ke sana sangat rawan macet, apalagi kalau perginya weekend. Heudeuh... *istighfar... Yang jelas, keuntungannya adalah teman2 nggak perlu naik shuttle car untuk ke Kawah Putih. Mobil bisa langsung diparkir tepat di tempat wisata. Bukan di jalan masuknya. Oh iya, info penting... jalan ke Kawah Putih itu mendaki (pastinya), berkelok, dan sempit. Asalkan penyabar, pasti sampai dengan selamat dan bahagia :D


Sampai di depan Kawah Putih, kami disambut dengan bebauan tak sedap alias bau belerang, ditambah sinar matahari yang hangat. Lalu kami masuk melalui tangga landai, dan sampailah di tempat yang cantik ini. Abaikan baunya. Oh iya, jangan lupa pakai maskernya, dan jangan ragu untuk mengeksplorasi kawasan. 



Taman depan Kawah Putih
Saung Kecapi
Tangga menuju tempat wisata


Areal yang banyak pengunjungnya ada di tengah. Kalau temen2 bawa keluarga yang sudah berumur, bisa diarahkan ke spot untuk lansia. Mereka bisa menikmati objek pemandangan dari ketinggian. Tempatnya juga enak. 


   
Titik pandang (spot) untuk wisatawan lansia
Jalan menuju spot lansia

View dari spot lansia



Mumpung lagi di Kawah Putih, jangan ragu juga untuk berjalan lebih jauh. Coba deh temen2 jalan ke kiri, menyusuri pepohonan. Pasirnya seperti pasir pantai, pepohonan di pinggirnya subur, tapi yang agak mendekati kawah, hanya tinggal batang dan cabang. Di balik pepohonan itu, temen2 bisa lihat tebing yang sangat tinggi, dengan barisan pepohonan seperti prajurit yang menjaga pegunungan. 







Berjalan terus ke arah kiri, akhirnya kami menemukan tempat yang lebih menarik lagi, Sepertinya sih, pernah ada bangunan sebelumnya, karena yang kami temukan hanya tinggal bangunan denahnya aja. Tanpa gedungnya. Lalu juga ada bebatuan berukuran sedang, tersusun membentuk jalan setapak. Ditambah lagi ada bebatuan yang disusun seperti lingkaran. Terkesan seperti situs sejarah dari jaman dahulu kala, dan merupakan spot terbaik buat buka bekel, ngelurusin kaki, catching up my breath, and let our Star Wars - Lord of the Ring - Batman - Xena :D - imagination works. 

Barisan pepohonan

Susunan batu yang membentuk jalan setapak




Gini rasanya diintip awan...




Setelah puas, kami kembali ke tengah, dan melihat beberapa penjual belerang dan souvenir. Karena sudah mulai mendung, kami putuskan untuk segera naik shuttle car, kembali ke parkiran motor. Sesampainya di sana, kami disambut dengan hujan. Terpaksa... mencari secangkir kopi hangat dan sosis bakar... dan ketan bakar.. dan gorengan... ah sudahlah... Beruntung kami sempat menikmati musik tradisional Sunda di salah satu warung. Mengamen hanya pekerjaan sambilan yang "kalau dikasih ya alhamdulillah, nggak dikasih ya nggak apa2, daripada nggak ada kegiatan" gitu katanya dengan bahasa Sunda. Beliau membuat bilanya sendiri, mengambil senar dari kecapi, bow biola beliau ambil dari senar untuk layangan, makanya suaranya unik. Simak deh permainan biolanya:




Perjalanan pulang
Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum ke Kawah Putih

  1. Siapkan masker pribadi
  2. Kalau tidak terbiasa dengan daerah dingin, bawa jacket/sweater tebal
  3. Waktu terbaik untuk mengunjungi Kawah Putih adalah pukul 7 pagi, saat cuaca cerah (mungkin lebih baik saat musim kemarau), dan bertepatan dengan jam operasional tempat wisata. Di jam ini, Anda bisa melihat warna biru langit dan toska dari danaunya. 
  4. Biaya: 
  • parkir motor Rp5,000 (pastikan untuk bertanya setiap kali Anda ditarik biaya)
  • masker Rp5,000 (sebaiknya bawa masker sendiri)
  • shuttle car & ticket 35,000


Thanks for visiting our blog!!