Bicara soal kekhasan suatu daerah, pasti nggak akan terlepas dari bahasa, makanan, kebiasaan, dan musik tradisionalnya. Di tanah Parahyangan alias Jawa Barat, ada alat musik yang terbuat dari bambu, namanya angklung, dan di Bandung ada beberapa sanggar musik angklung, salah satunya yang (kembali) jaraknya dekat dengan tempat saya tinggal adalah di Saung Angklung Udjo (SAU), selain juga ada AWI (Angklung Web Institute) di Braga.
Cara ke Saung Angklung Udjo
Ini adalah kali ketiga saya ke sini. Maklum, rumah saya memang daerah sini 😁 Nah, kalau temen-temen dari Jakarta, tinggal naik travel ke Bandung, minta diantar ke areal Cicaheum, atau langsung bilang aja ke Saung Angklung Udjo. Sangat mudah karena tempatnya terkenal. Kalau sudah sampai di mulut jalan Padasuka, yang ada papan besar tulisannya "Saung Angklung Udjo" trus tanda panah, nah itu udah deket. Banyak ojek di depan, tapi kalau jalan juga nggak jauh-jauh amat. Setelah ruko-ruko, dan Indomaret, nyebrang, nyampe deh...
Alamat lengkapnya:
Jl. Padasuka No.118, Pasirlayung, Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40192
Telp: (022) 727 1714
Saung Angklung Udjo
Beberapa kali saya mampir ke SAU. Awalnya, tempat ini nggak terlalu besar, cuma ada toko souvenir dan gedung pertunjukan yang semi outdoor. Tempat parkirnya juga hanya satu, yang sebenernya juga udah cukup luas sekali bangatsss. Cukup buat "nangkring" beberapa bus sekaligus. Jadi kalau temen2 bawa mobil pun nggak usah khawatir soal parkir.
| Halaman depan |
Seiring dengan berjalannya waktu, Saung Angklung Udjo juga mengalami perkembangan, tempat parkir motor yang awalnya di depan, lalu sempet di samping, 'nyebrang' gang, sekarang balik lagi di samping antara tempat pertunjukan dengan kafe. Jadi bus dan kendaraan roda empat (atau lebih) tempat parkirnya lebih luas lagi. Tempat pertunjukannya juga sudah ditambah. Bahkan sekarang ada tamannya juga. Taman depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah.. 😁 Kereeennn banget. Salut buat Saung Angklung Udjo yang anti mapan 😁
| Taman |
| Tempat pertunjukan 1 |
| Tempat pertunjukan 2 |
Pertama masuk, saya disambut dengan papan informasi yang memaparkan tentang pendirinya yaitu Bapak Udjo Ngalagena, maupun tentang sepak terjang SAU dalam memperkenalkan alat musik Parahyangan ini. Nggak hanya itu, yang terpenting lagi adalah mereka menyajikan informasi tentang perkembangan angklung, dari yang tadinya dibuat untuk mengiringi upacara-upacara adat Sunda (disertakan juga daerah penyebarannya, dan sampai sekarang masih ada), lalu dikembangkan lagi ke nada pentatonis (biasanya digunakan untuk lagu daerah), lalu mereka menciptakan lagi angklung dengan tangga nada diatonis, jadi kita tidak hanya bisa memainkan lagu daerah, tapi juga lagu-lagu mancanegara pada umumnya. Nanti langsung baca aja yah, di papannya :D
| Iket |
| Suling Bengsin |
| Wayang Golek |
Angklung Petang
Kali ketiga ini, saya sempatkan nonton Angklung Petang, dan surprisingly, angklung petang yang hari ini, Rabu 16 Nov 2016, adalah hari yang spesial, karena tepat 6 tahun yang lalu UNESCO menetapkan angklung sebagai warisan dunia yang berasal dari Indonesia. Inget kan, jaman waktu kata-kata "diklaim" negara lain itu happening banget :p Well anyway, setiap hari, SAU mengadakan pertunjukan lengkap di angklung petang ini. Sebelum masuk ke acaranya, ini harga tiket untuk angklung petang:Dewasa - domestik: IDR 60,000
Dewasa - mancanegara: IDR 100,000
Anak2 (4-11 thn): IDR 40,000
Weekend:
Dewasa - domestik: IDR 70,000
Dewasa - mancanegara: IDR 110,000
Anak2 (4-11 thn): IDR 50,000
Setelah membeli tiket, saya diberi kalung tali dengan liontin angklung dari bambu dan sinopsis acara dalam bahasa Indonesia, sebagai souvenir sekaligus tiket. Pertunjukan dimulai dengan sambutan dari MC yang bisa berbicara beberapa bahasa sekaligus. Abis bahasa Indonesia, Inggris, lalu tau ada turis dari Jerman dan Belanda, pake bahasa itu juga dia. Ada tourist Jepang juga dipake juga bahasa Jepangnya. Luar biasa *AngkatJempolBuatMbakKeti
| Pembukaan wayang selalu dimulai dengan "Gunungan" |
Pertunjukan masih terus bersambung, setelah Helaran selesai, penonton langsung disuguhi dengan tari Topeng, disusul dengan persembahan kolosal anak-anak, bersama-sama menyanyi lagu Sunda, Tokecang. Terus terang, di sini saya agak baper juga. Di tengah-tengah kondisi negara yang kisruh, tetiba nonton ini rasanya bertolak belakang dan adem banget. Suasana haru memuncak dan saya sempat menitikkan air mata sesaat. Betapa kayanya budaya Indonesia, dan semua bersatu padu, berwarna-warni, saling melengkapi satu sama lain melalui perbedaan. Baiklah... dilanjut lagi yah... 😁
Tahun 1938, Bapak Angklung Indonesia: Daeng Soetigna, mengadaptasi tangga nada diatonik mayor (yang biasa kita kenal sekarang), ke dalam alat musik bambu ini. Nggak hanya nadanya aja diadaptasi, tapi juga bentuknya, diubah menjadi arumba (seperti xylophone, vibraphone). Alat musik yang tadinya pentatonik (da-mi-na-ti-la), dimodifikasi menjadi diatonik (do re mi fa sol la si) supaya bisa bermain combo atau kolaborasi dengan alat musik modern.
Karena kemampuannya sudah berkembang, maka pertunjukannya pun berkembang. Selain menyajikan combo band memakai arumba dan cajon, SAU juga mengajak penonton menyanyi bersama. Lagu ini ada di semua negara dengan bahasa yang berbeda-beda. Kalau di Indonesia, namanya Melati Kenanga. Dalam bahasa Sunda, jadi Boneka Abdi, dan mereka menyanyikannya dalam beberapa bahasa juga. Karena sangat terkenal, Bu MC jadinya berkeliling mengajak penonton bernyanyi. Baris satu pakai bahasa Sunda, lalu baris dua pakai bahasa Indonesia, sebentar dia nyamperin turis Jepang pakai bahasa Jepang, dan seterusnya bisa ditebak 😄 *MasihKagum
Saat kagum saya belum selesai, SAU memberikan deretan seni tari yang bertubi tubi, mulai dari Aceh dengan Bungong Jeumpanya, Sumatera dengan Sinanggar Tulonya, Jakarta dengan Jali-Jalinya, begitu seterusnya sampai Papua dengan Yamko Rambe Yamkonya, dan semuanya ini diiringi dengan alat musik angklung dan bambu, lengkap dengan alat musik modern (bass dan drumset).
| Belajar angklung |
| Panorama pic of SAU |
Thanks for visiting my blog!!





