Pages

Monday, 7 November 2016

Tangkuban Perahu

Setelah minggu lalu kami mengunjungi Kawah Putih di Selatan Bandung, maka kali ini kami mengunjungi wisata alam lainnya yang berada sekitar 30 km Utara Bandung, namanya Tangkuban Perahu. Diperlukan sekitar 2 jam dari Bandung sampai ke sana. Kalau temen2 suka hiking tapi masih belum berani "serius", tempat ini boleh dicoba, karena tangga-tangganya sedikit curam, banyak, tapi sudah dirapikan (diplester), dan di-design sedemikian rupa, sehingga nyaman buat trekking or hiking.


Cerita Rakyat
Tangkuban Perahu (atau dibaca: Tangkuban Parahu dalam bahasa Sunda), memiliki cerita rakyat yang melegenda. Begini ceritanya: Dahulu kala, ada seorang putri bernama Dayang Sumbi yang cantiiik banget. Saking cantiknya, banyak raja yang berperang memperebutkan dia. Merasa sebagai sumber peperangan, Dayang Sumbi akhirnya pergi ke hutan dan tinggal di sana.
Suatu hari, Dayang Sumbi sedang menenun, tiba-tiba pintalan benangnya jatuh. Malas mengambil pintalan itu, dia bersumpah, "Barang siapa yang bisa mengambil pintalan benang itu, akan kujadikan suami." Tetiba seekor anjing bernama Tumang (yang konon adalah keturunan dewa) mengambil pintalan itu dan memberikannya ke Dayang Sumbi. Karena sudah telanjur janji, akhirnya mereka menikah dan dikaruniai anak, dinamakannya Sangkuriang.
http://forum.liputan6.com/t/legenda-dibalik-gunung-tangkuban-perahu/25582
Tumbuh dewasa, Sangkuriang selalu ditemani Tumang, yang ia ketahui sebagai anjing piaraannya. Suatu hari, mereka pergi berburu, Sangkuriang janji akan berburu rusa. Tertekan karena nggak dapet rusa, Sangkuriang akhirnya membunuh Tumang, mengambil hati Tumang, dan diberikan ke ibunya. Intuisi seorang ibu, Dayang Sumbi mengetahui benar bahwa itu adalah hati Tumang, ia marah besar ke Sangkuriang, dipukulnya kepalanya dan diusirnya dia dari rumah. 

Sangkuriang berkeliling dunia dan kembali ke desa yang sama tanpa disadarinya. Di sana dia bertemu ibunya, tapi ia tidak menyadarinya. Awalnya Dayang Sumbi tidak tahu bahwa itu Sangkuriang, bahkan mereka memutuskan untuk menikah. Melihat ada luka bekas pukulan yang sama, ia terkejut dan menyuruh Sangkuriang untuk membuat danau dan perahu besar, harus selesai sebelum matahari terbit esok hari, dengan tujuan menggagalkan pernikahan, tanpa Sangkuriang tahu bahwa dia adalah ibu kandungnya.
 
https://asep4212.wordpress.com/2010/11/04/asal-usul-gunung-tangkuban-perahu/
Dengan kekuatan magisnya, Sangkuriang mengabulkan permintaan ibunya. Ia membuat danau dengan membendung sungai Citarum dan membuat perahu. Khawatir hal itu terwujud, Dayang Sumbi terus berdoa supaya Tuhan menggagalkan niat Sangkuriang. Tuhan mengabulkan doa Dayang Sumbi. Sangkuriang kecewa, dia menendang perahunya sampai terbalik, dan perahu itu menjadi gunung yang dikenal sebagai Gunung Tangkuban Perahu (Perahu Terbalik).
http://www.sinar8.com/2016/03/legenda-sangkuriang-asal-usula-gunung.html


Menuju Tangkuban Perahu
Karena jaraknya nggak jauh-jauh amat, maka kali ini saya dan suami coba bawa motor sendiri-sendiri. Yaaa ada untung ruginya juga sebenernya. Kalau bawa sendiri, ada beberapa view di perjalanan yang saya nggak bisa ambil, konsen nyetir soalnya :D Tapi, senang bisa bawa sendiri. Rendezvous point kami adalah UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) di Jl. Setiabudhi. Di sana kami juga berbarengan dengan beberapa motor club lain yang berencana SunMoRi (Sunday Morning Ride). 

Sekitar satu jam kemudian, Endras & Rere menyusul, langsung kami berangkat menuju Tangkuban Perahu. Jalan menuju ke sana agak berkelok, thank God cuaca sangat mendukung. Bener-bener Minggu pagi yang cerah, dan seperti biasa, areal Bandung di akhir pekan selalu apa?.. Macet yah betul bangats!! Mungkin lebih tepatnya padat merayap ya... Begitu terus sampai Tangkuban Perahu.

Sebelum sampai ke sana, temen2 akan disuguhi dengan pemandangan hutan pinus di kanan kiri jalan. Cikole nama areanya. Sayang banget saya nggak bisa ambil gambar. Tapi saya coba ambil gambar dari situs lain yah.... :D
http://www.king-adventure.com/grafika-cikole-lembang-2

http://tempatwisatadibandung.info/wisata-hutan-pinus-cikole-lembang-pal-16/


Tangkuban Perahu
Setelah berjibaku dengan lalu lintas padat merayap, sampai juga kami di Tangkuban Perahu. Terakhir kali saya ke sini, sekitar 10-11 tahun lalu. Saya pikir cuacanya masih sama, ternyata jauh lebih panas. Syal dan jacket akhirnya nganggur deh :D
Di gerbang masuk temen-temen akan disambut dengan penjual tiket. Harga tiket masuknya Rp. 30,000.- sajahhh.... Kalau pakai motor, biaya parkirnya Rp. 17,000.- sajahhh... :-)
Setelah membayar dlsb, kami masih harus bermotor ke atas, dan jalannya lebih berkelok dan menanjak. Mereka tidak menyediakan shuttle car untuk menuju ke area wisata. Jadi sebaiknya temen-temen harus mempersiapkan kendaraan pribadi.
 
 Jalan menuju Tangkuban Perahu


Sampai di Tangkuban Perahu, kami langsung menuju parkiran motor yang nun jauh di bawah sana. Pemandangan yang disuguhkan di sini juga cukup menarik. Diawali dengan warung-warung penjual souvenir dan makanan tradisional, yang menggiring Anda sampai ke area parkir motor. Tempat parkirnya agak curam, jadi hati-hati kalau menuju ke sana yah...


Kalau temen-temen suka hiking, atau baru belajar hiking, tempat ini pas banget. Terakhir saya ke sini, tempat ini masih beralaskan tanah, belum diaspal. Sekarang jauh lebih rapih. Warung-warung diatur tempatnya. Akses masuk dan jalan di sekitarnya sudah diaspal. Bahkan, pagar pembatas pun sekarang lebih jauh dari kawah. Mungkin dibuat lebih jauh jaraknya karena terkadang gunung ini masih pernah beberapa kali erupsi. Dan karena jarak kawahnya jauh, nggak perlu khawatir terpapar belerang. Titik pengamatan juga dibuat bertangga-tangga, dan semuanya sudah diplester. 




Penasaran, kami coba untuk naik lebih tinggi, dan ternyata di areal ini ada hutannya, sejuk banget. Tempatnya juga pas dekat dengan warung Indomie. Ya sudah, mungkin memang waktunya istirahat dan makan dulu :D
"Hutan Indomie"

Cuaca semakin panas, matahari hampir tepat di atas kepala, lututku lemas, baju bau keringet, dan semakin siang, pengunjung semakin banyak. Akhirnya ya sudah, kami segera turun menuju parkiran motor, pulang, dan disambut dengan lalu lintas yang jauh lebih padat menuju Bandung. Bahu jalan lebih sering kami gunakan daripada bahu pacar :D


Thanks for visiting our blog!!

No comments:

Post a Comment