Pages

Saturday, 1 October 2016

Travelling ke Zaman Batu: Era Megalitikum

Semisal temen-temen di Jawa Barat dan sekitarnya yang suka travelling, atau touring motor, ditambah sekarang akan memasuki bulan Oktober yang artinya mau musim hujan, yang artinya lagi bulan September adalah bulan di mana mulai ada hujan di hari2 tertentu dan cuaca tidak menentu, daerah yang satu ini bisa dijadiin referensi buat travelling sekaligus trekking. Namanya Gunung Padang. No, bukan di Padang, adanya di Cianjur, Jawa Barat koq. Dekat kan? (dari tempat tinggal saya maksudnya :p)





MENUJU GUNUNG PADANG


Saya dan suami sengaja naik motor karena hanya memerlukan waktu sekitar 2 jam 30 menit dari Bandung, tempat saya tinggal. Tapi kalau temen2 dari Jakarta, mungkin bisa naik bus menuju Cianjur. Jalan dari bypass Cianjur-Sukabumi menuju Gunung Padang cukuppppp jauhhh. Kalau naik motor sekitar satu jam, dan jalannya sempit (mungkin hanya cukup 2 mobil), sebagian mulus, sebagian rompal. Jaraknya juga lumayan bikin punggung pegel dan pantat sobek wkwkwk... 19,2 km saja :D Pemandangan di kanan kiri jalan kadang hutan, kadang sawah, kebun teh, tapi yang paling keren (menurut saya) saat kami sudah hampir mendekati situs, di situ rutenya agak curvy, dan menanjak. Di sana kita disuguhi pemandangan pegunungan yang indah banget. 




Kalau misalnya temen2 ke sana dengan bus, bisa memesan ojek yang nangkring di mulut jalan, di bawah plang "Situs Gunung Padang". Untuk tarifnya mungkin agak mahal, saya nggak sempet tanya waktu itu. Jadi siapkan kocek agak banyak yah... 


Keuntungan pakai motor ke sana adalah temen2 bisa parkir motor tepat di depan gerbang situs Gunung Padang, tempat penjual tiket berada, bersebrangan dengan warung2 penjual makanan, minuman, souvenir, bahkan ada penginapan sederhananya juga. Lah emang parkir mobilnya di mana? Parkir mobil ada nun jauh di bawah sana :D Jadi kalau temen2 naik mobil, siap2 hiking sesi I menuju gerbang Gunung Padang. 

Udah sampai? Beloommm.. masih jauh... Saat di gerbang, jangan lupa membeli tiket dulu. Tiketnya juga sangat murah dan terjangkau, Rp. 5,000,- saja per orang. Setelah itu, baru kita bisa masuk lewat pintu gerbang, di sana sudah ada para pria ganteng berbaju pangsi menunggu. Mereka mengecek tiket, lalu baru kita mulai hiking sesi II. 

Mereka menyediakan 2 jalur untuk hiking. Jalur 1 panjangnya 175 m, jalur 2 panjangnya 300 m. Yang artinja... Jalur 1 tangganya sangat curam. Karena saya termasuk orang yang mager (males gerak), jadi kami ambil yang jalur landai sajah... 300 m. Itu pun sering berhenti di tengah2. Meskipun tangganya sempit (mereka mendesign untuk 2 orang, jalur naik dan jalur turun), tapi sangat terhibur dengan view kanan dan kiri, penuh tumbuhan dan pepohonan yang hijau rimbun menyegarkan nafas, menyejukkan pikiran, mendinginkan hati, mengusir kegalauan.. halah...




Setelah hiking sesi II yang entah berapa lama itu, akhirnya kami sampai juga di situs tersebut. Oh ya... Temen2 tidak usah khawatir kehausan atau kelaparan baik di tengah jalan ataupun di situsnya. Terdapat beberapa warung penjaja makanan dan minuman khas Bandung. Mulai mie instan, gorengan, bakso, dan batagor, semua ada. Sambil beristirahat, sambil mengisi perut, dan harganya pun wajar.



GUNUNG PADANG

Menurut Mbah Wiki, Gunung Padang adalah...
"...situs megalitikum yang terletak di desa Karyamukti, Cianjur, Jawa Barat, 50 km barat daya dari Cianjur. Situs ini disebut sebagai situs terbesar di Asia Tenggara. Penelitian menunjukkan Gunung Padang dibangun dalam empat era."

Terrrrus? Megalitikum?
"Dalam seni prehistoris, masa megalitikum ini berada di sekitar 4500-1000 SM. Manusia pada masa itu menggunakan batu-batu alami untuk membuat berbagai bangunan yang disusun sedemikian rupa tanpa menggunakan mortar atau semen. Biasanya digunakan untuk upacara atau ritual. Contohnya Stonehenge, Moai di Easter Island. Atau bisa juga untuk makam, tempat persembunyian (seperti Gobekli Tepe di Turki). Konstruksi dan letak struktur bangunan prehistoris ini cukup rumit: bentuk bebatuan tertentu biasanya diposisikan sesuai dengan kebutuhan dan gugus bintang dan matahari." (- http://www.visual-arts-cork.com/prehistoric/megaliths.htm)

Kembali lagi tentang Gunung Padang...

Rekonstruksi Gunung Padang
Source: http://www.ancient-code.com/gunung-padang-oldest-pyramid-planet/
"Gunung Padang terdiri dari bebatuan berbentuk persegi panjang yang membentuk seperti partisi, jalan, dan gerbang masuk. Ukuran bebatuan bervariasi dari lebar & panjang 25 - 40 cm,  sampai 1,5 m tingginya, dengan berat sekitar 250 kg. Ada yang berbentuk dari segi empat sampai poligonal, biasanya yang jenis ini memiliki berat melebihi 600 kg. 




Situs ini memiliki 5 undakan besar, setiapnya dihubungkan dengan tangga yang ditandai dengan pilar-pilar. Teras paling luasnya 900 meter persegi, menghadap ke barat laut, tempat di mana Gunung Gede berada.




Menurut penelitian para arkeolog, struktur Gunung Padang berada di era perunggu (Bronze Age), yaitu 2500-1500SM. Namun menurut geologist Bpk. Danny Hilman Natawidjaja dari Pusat Penelitian Geoteknikal Indonesia, yang meneliti akumulasi sedimen di setiap tanahnya, situs ini usianya jauh lebih tua. Gunung Padang dibangun dalam beberapa era: 
22,000 - 20,000 SM (yang artinya lebih tua lagi dari Gobekli Tepe), 
14,700 SM,
9,600 SM,
4,700 SM, dan
2,800 SM
Yang artinya, manusia paleolitikum beraktivitas di tempat ini, yang kurang lebih ada pada 40,000 - 20,000 tahun yang lalu."
(diterjemahkan dan disadur dari: http://www.andrewcollins.com/page/articles/gp.htm)



Sebenernya situs sejarah ini cukup terawat, tapi mungkin bisa lebih maksimal lagi. Kalau kendalanya dari segi finansial, mungkin harga tiket bisa dinaikkan. Salah satu contohnya yang sangat disayangkan adalah saat saya sedang beristirahat di area TIC (Tourism Information Centre), ada beberapa turis asing yang kebingungan mencari informasi, masuk kantor, nggak ada petugas yang berjaga di sana. Denah dan petunjuk yang terpampang di dinding juga masih menyediakan informasi dalam bahasa Indonesia saja. Padahal situs ini sudah terkenal cukup mendunia. Coba saja googling, ada puluhan artikel membahas situs ini dalam bahasa Inggris. Ditambah nilai historisnya yang sangat tinggi menurut saya. Atau mungkin memang dibuat seperti inikah? Karena menurut beberapa artikel, para peniliti asing agak kesulitan untuk melakukan riset di tempat-tempat khusus, karena tidak memperoleh izin dari penduduk sekitar. Nah mungkin aja, untuk menjaga kelestarian situs Gunung Padang yang misterius ini.



Setelah mengisi perut di warung, kami memutuskan untuk "kembali ke bumi" (abis tempatnya tinggi bangats, serasa di kahyangan), saatnya si lutut dan telapak kaki berjibaku dengan tangga lagi. Dan setelah sampai bumi, kami mampir sebentar di...



STASIUN LAMPEGAN

Mungkin hanya butuh waktu sekitar 20 menit ke lokasi ini. Hal yang menarik dari tempat ini adalah terowongannya. Begini kata Mbah Wiki:
Menurut cerita, nama Lampegan asalnya dari kata yang sering disebutkan oleh Beckman ketika memeriksa hasil pekerjaan pegawainya. Setiap melihat pegawai yang sedang bekerja di dalam terowongan, dia sering berteriak mengingatkan kepada pegawainya untuk tetap membawa lampu agar lebih aman dari bahaya kurangnya zat asam. “Lamp pegang...., lamp pegang”, dia mengingatkan dalam campuran bahasa Belanda dan Indonesia. Maksudnya adalah agar pegawai membawa lampu. Di terowongan itu udaranya masih lembab dikarenakan lubang terowongan yang hanya ada satu. Akhirnya, terowongan ini disebut Terowongan Lampegan."



  


Intermezzo...
Setelah mampir sebentar di Stasiun Lampegan, kami kembali ke Bandung ditemani dengan gerimis mengundang... mengundang lapar :D Akhirnya beloklah sebentar ke resto Bumi Aki, yang tempatnya sangat nyaman, masakannya enak, ulukutek leuncanya enak, tongsengnya pas, kopi jahenya nendang, pelayanannya ramah (banget), porsinya pas, dan yang penting... harganya masuk akal :D
Kenyang sudah, segar kembali, dan hujan pun berhenti, jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Yah baiklah... saatnya kembali ke Bandung.


 Thanks for visiting our blog!!

No comments:

Post a Comment